Pria-pria suku Uksa semakin marah karena gagal menangkap. Mereka mencoba mengepung Lynx, tetapi Lynx memanfaatkan celah di antara mereka untuk bergerak cepat. Kali ini, ia melompat di antara pohon-pohon, membuat mereka kehilangan jejak.

"Kemari kau!" bentak salah satu dari mereka, tapi saat ia berbalik, Lynx sudah berdiri di belakangnya.

"Hai," sapa Lynx santai, sebelum melompat lagi dan membuat pria itu hampir menabrak temannya.

Kanha, yang menyaksikan semua ini dari kejauhan, tertawa terbahak-bahak. "Kalian semua kalah dengan dia? Ayolah! Kalian harus lebih cepat!"

Lynx menahan tawa sambil terus bergerak, memastikan bahwa setiap gerakannya tidak membuat mereka terluka. Ketika salah satu dari mereka mencoba menusuk dengan tombak, Lynx dengan gesit memutar tubuh pria itu sehingga ia hanya menusuk tanah.

"Sudah cukup," kata Lynx akhirnya, berdiri di tengah mereka. "Aku bukan musuh kalian. Kalau aku mau, aku sudah bisa melukai kalian sejak tadi."

Pria-pria itu terdiam, akhirnya menyadari bahwa mereka tidak akan bisa menangkap Lynx. Mereka saling pandang dengan bingung, sementara Kanha mendekati Lynx dengan tawa nakal.

"Kau beruntung," kata Kanha sambil menunjuk Lynx dengan senyum jahil. "Tapi jangan pikir aku sudah menyerah! Aku pasti akan menangkapmu suatu hari nanti!"

Lynx menghela napas panjang, menatap Kanha dengan tatapan lelah. "Kanha, aku hanya ingin bicara dengan kepala suku kalian. Kau tahu itu, kan?"

Kanha tersenyum lebar, mengangkat bahu. "Ya, aku tahu. Tapi ini lebih seru, kan?"

Pria-pria Uksa akhirnya menyerah, menurunkan senjata mereka. "Baiklah," kata salah satu dari mereka. "Kalau kau benar-benar ingin bertemu kepala suku, kami akan membawamu. Tapi kalau kau bohong..."

"Aku mengerti," kata Lynx sambil tersenyum.

Di belakang mereka, Kanha berjalan sambil menahan tawa. "Aku mungkin gagal menangkapnya, tapi setidaknya aku membuat harinya sedikit lebih ribet!"

Lynx berjalan di tengah-tengah para pria Uksa yang mengelilinginya dengan kewaspadaan. Meski suasananya tidak terlalu tegang, Lynx bisa merasakan bahwa mereka tidak sepenuhnya mempercayainya. Salah satu pria membawa tombak, dan yang lain memegang tali jebakan, seolah-olah siap untuk mengikat Lynx kapan saja jika ia membuat gerakan mencurigakan.

Sementara itu, Kanha berjalan dengan langkah santai di depan mereka, sesekali berbalik untuk menjulurkan lidah ke arah Lynx. "Kali ini kau benar-benar terjebak, ya?" gumam Kanha sambil tertawa kecil.

Lynx mengabaikan komentar Kanha dan mulai mengamati sekelilingnya. Perkampungan Uksa terletak di area yang terbuka, tetapi dikelilingi oleh perbukitan yang ditumbuhi pepohonan lebat. Rumah-rumah mereka dibuat dari kayu sederhana, dengan atap daun yang dianyam rapi. Beberapa warga terlihat sibuk memperbaiki alat jebakan, sementara yang lain membawa hasil panen kecil dari ladang.

Anak-anak Uksa berlarian dengan riang, membawa tali dan kayu kecil yang mereka gunakan untuk berlatih membuat jebakan. Mereka saling menantang untuk menangkap burung kecil yang terbang di dekat ladang. Lynx tersenyum melihat keceriaan mereka, meskipun ia merasa heran melihat anak-anak diajarkan membuat perangkap sejak usia sangat muda.

Penduduk Uksa tampak kuat dan sehat, tubuh mereka terlatih dari gaya hidup yang mengandalkan fisik. Rambut mereka kebanyakan pendek dan diikat praktis, mencerminkan efisiensi dalam segala hal. Meski pakaian mereka sederhana, terdiri dari kulit binatang dan anyaman tumbuhan, Lynx melihat bahwa mereka terampil dalam membuat segala sesuatu yang mereka butuhkan sendiri.

"Ayo, jangan lambat!" seru salah satu pria yang mengawalnya, memotong pengamatan Lynx. Mereka membawanya ke sebuah bangunan yang lebih besar dari rumah-rumah lain. Bangunan itu terlihat seperti pusat pertemuan, dengan pintu kayu besar yang dihiasi ukiran sederhana berbentuk alat-alat berburu.

Lynx berdiri tegak di tengah ruangan, dihadapkan oleh tatapan tajam penduduk Uksa yang mengelilinginya. Udara terasa berat, penuh ketegangan yang menggantung di antara kerumunan. Kepala suku Uksa, seorang pria kekar dengan pakaian kulit rusa yang dihiasi anyaman rotan, duduk di kursinya, wajahnya dingin dan penuh kewaspadaan.

"Siapa orang ini?" tanyanya dengan suara berat, matanya menatap langsung ke arah Lynx.

Salah seorang pria Uksa yang membawa Lynx masuk menjawab cepat, "Dia mengaku bernama Lynx. Katanya dia ingin bertemu denganmu, Kepala."

Pria lain menyela dengan nada tajam. "Tapi dia ditemukan bersama Kanha. Dan kau tahu Kanha, dia selalu membuat masalah. Bagaimana kita tahu orang ini tidak sama saja?"

"Hei!" protes Kanha dari belakang dengan wajah merengut. "Aku tidak membuat masalah! Aku membantu menangkapnya! Kau lihat aku yang menahannya, kan?"

Beberapa pria Uksa mendengus, jelas tidak percaya.

Kepala suku yang bernama Widhi mengabaikan Kanha dan mengarahkan pandangannya kembali ke Lynx. "Apa yang membuatmu mencari kami? Orang asing jarang diterima di sini, apalagi dari suku lain."

Lynx menundukkan kepala sedikit sebagai tanda hormat. "Aku Lynx, dari perkampungan Sinto. Aku membawa pesan penting."

"Sinto?" Kepala suku menyipitkan matanya. "Apa yang diinginkan Sinto dari kami? Bukankah mereka terlalu sibuk dengan doa dan ritual mereka?"

Lynx tersenyum kecil. "Sinto tidak menginginkan apa-apa. Aku bukan penduduk asli Sinto, tetapi aku bekerja sama dengan mereka. Aku ingin mengajak suku Uksa bersatu melawan Monrest."

Kata "Monrest" membuat suasana menjadi hening sejenak. Namun, ketegangan itu segera berubah menjadi keraguan yang mencemaskan.

"Bagaimana kita tahu dia bukan mata-mata Monrest?" seru salah seorang pria Uksa dengan nada tajam. "Monrest selalu mencari cara untuk menghancurkan kita. Mungkin dia dikirim untuk menemukan lokasi kita!"

Sorakan setuju terdengar dari beberapa orang.

"Benar!" seru wanita yang berdiri di sudut ruangan. "Mereka sudah menghancurkan suku Raksa. Mungkin dia bagian dari mereka!"

Lynx mencoba menjelaskan, "Aku bukan dari Monrest, dan aku juga bukan—"

Kanha, yang biasanya membela Lynx, malah ikut menambah kekacauan dengan suaranya yang nyaring. "Tunggu dulu! Kak Lynx ini sangat cepat, lho. Dia bisa menghindari macan dengan mudah. Mungkin dia mata-mata Raksa! Mereka sering mencuri makanan dan obat-obatan kita sekarang, kan?"

"Anak ini ada benarnya!" seru seorang pria. "Suku Raksa mungkin mengirim dia untuk mencuri dari kita! Mereka tidak punya apa-apa sejak Monrest menghancurkan desa mereka."

Lynx menghela napas panjang, tetap berdiri tenang meski wajahnya mengeras. "Aku bukan dari Monrest. Aku bukan dari Raksa. Aku hanya ingin menyampaikan pesan."

Namun, tuduhan semakin deras.

"Dia terlalu mencurigakan!"

"Kenapa dia tahu desa kita?"

"Bagaimana kalau dia hanya memancing kita keluar untuk diserang?"

Kepala suku mengangkat tangan, mencoba menenangkan kerumunan. "Diam semua! Aku yang memutuskan di sini."

Kerumunan mulai mereda, meskipun bisikan-bisikan masih terdengar. Kepala suku kembali menatap Lynx dengan tajam. "Jika kau memang bukan mata-mata, berikan kami alasan untuk percaya padamu."

Lynx mengangguk. "Sinto sering membantu kalian dengan pengetahuan tentang tumbuhan hutan, bukan? Dan kalian, Uksa, menyediakan alat-alat berburu dan jebakan untuk mereka. Aku mendengar ini dari Nenek Drona, dukun dari Sinto, yang sangat menghormati bantuan kalian selama ini."

Kepala suku sedikit melonggarkan bahunya, tetapi ia masih tampak ragu. "Nenek Drona memang dikenal di sini, tapi itu tidak cukup untuk membuktikan niatmu."

Sebelum Lynx bisa menjawab, suara berat Narendra memotong. Ia melangkah masuk ke ruangan, tubuhnya yang kekar terlihat semakin besar di bawah cahaya obor.

"Semua kata-katanya terdengar bagus," katanya dengan nada dingin. "Tapi di sini, kami tidak percaya kata-kata. Kami percaya pada tindakan."

"Apa maksudmu?" tanya Lynx, menatap langsung ke arah Narendra.

Narendra tersenyum tipis, penuh tantangan. "Buktikan bahwa kau layak dipercaya. Aku menantangmu untuk bertanding."

Kerumunan kembali ribut, kali ini dengan nada lebih bersemangat.

"Kita akan melihat apakah dia benar-benar bisa dipercaya!"

"Kalau dia kalah, kita tahu dia hanya pembual!"

Kepala suku menghela napas panjang. "Narendra, kau tahu ini hanya akan membuat keadaan semakin rumit."

"Tidak, Ayah," jawab Narendra, matanya tetap tertuju pada Lynx. "Jika dia bisa mengalahkan aku, maka dia bukan orang biasa. Tapi jika dia kalah, dia tidak layak berbicara di depan kita."

Kepala suku mempertimbangkan sejenak, lalu akhirnya mengangguk. "Baiklah. Jika ini satu-satunya cara untuk menilai niatnya, aku akan mengizinkannya. Tapi jangan sampai ini menjadi alasan untuk melukai tanpa alasan."

Narendra tersenyum, melangkah maju. "Aku akan berhati-hati. Tapi aku tidak bisa berjanji."

Kanha melompat ke samping Lynx, menarik lengannya. "Kak Lynx, kau pasti akan kalah! Kak Narendra itu orang terkuat di sini! Apa kau yakin mau melawan dia?"

Lynx menoleh ke Kanha dengan senyum kecil. "Aku tidak datang untuk bertarung, tapi jika ini satu-satunya cara agar aku bisa didengar, maka aku tidak punya pilihan."

Kerumunan mulai bergerak ke lapangan terbuka di dekat perbukitan, bersiap menyaksikan pertarungan yang akan menentukan apakah Lynx layak mendapatkan kepercayaan Uksa.

Narendra tersenyum tipis. "Buktikan bahwa kau layak untuk dipercaya. Jika kau benar-benar ingin bekerja sama dengan Uksa, kau harus melalui ujian ketangkasan. Jika kau gagal, jangan harap kami mendengarkanmu."

Kanha yang berdiri di belakang Narendra terlihat bersemangat. "Kak Narendra, biar aku juga ikut melihatnya! Ini pasti seru!"

Narendra menggeleng, tetapi senyumnya mengembang. "Kanha, kau hanya akan mengganggu. Lihat saja dari jauh."

Kepala suku akhirnya angkat bicara. "Narendra benar. Kau harus membuktikan dirimu layak untuk membahas kerjasama dengan kami. Jika kau ingin membawa kami ke dalam pertarungan besar melawan Monrest, kami harus yakin bahwa kau bisa diandalkan." Ia menatap Lynx. "Apakah kau menerima tantangan ini?"

Lynx tersenyum tipis. "Tentu saja. Katakan saja apa yang harus aku lakukan."

Mereka mulai menyiapkan ujian ketangkasan. Dengan cepat rintangan terakhir telah dibuat, dan para penduduk Uksa berkumpul di sekitar area perbukitan untuk menyaksikan pertarungan antara Lynx dan Narendra. Suasana terasa tegang, namun penuh antisipasi. Kanha berdiri di antara kerumunan dengan ekspresi penuh semangat, sesekali melambaikan tangan pada kakaknya.

"Lynx," panggil Narendra, melipat tangannya di dada. "Kau bilang kau ingin membuktikan dirimu, kan? Ini kesempatanmu. Tapi ingat, di sini kami tidak hanya menilai kekuatan. Kami menilai kecerdasan, ketangkasan, dan keberanian."

Lynx mengangguk dengan tenang. "Aku siap kapan saja."



